Pemerintah Kabupaten Lahat terus mendorong pengembangan sektor pariwisata daerah melalui penataan kawasan situs megalit yang direncanakan menjadi destinasi wisata sejarah dan kuliner. Upaya tersebut ditunjukkan langsung oleh Bupati Lahat Bursah Zarnubi saat meninjau kawasan Megalit Dua di Kecamatan Gumay Ulu, Selasa (19/05/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Bupati Lahat didampingi anggota DPRD Dapil III, Ketua TP-PKK Kabupaten Lahat Ir. Sri Meliyana Bursah, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Camat Pulau Pinang, Camat Gumay Ulu, serta Kepala Desa Simpur.
Bupati Lahat menjelaskan bahwa kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan lokasi sekaligus mencocokkan konsep pembangunan dan desain kawasan wisata dengan kondisi lapangan yang sebenarnya.
Menurutnya, penataan kawasan megalit akan dilakukan secara terencana agar pembangunan destinasi wisata dan pusat kuliner nantinya dapat menghadirkan suasana yang nyaman, menarik, dan memiliki daya tarik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
“Peninjauan ini dilakukan untuk mencocokkan gambar atau sketsa pembangunan dengan kondisi di lapangan agar konsep yang telah direncanakan dapat diterapkan secara maksimal,” ujar Bursah Zarnubi.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Lahat berkomitmen menjadikan kawasan megalit sebagai salah satu destinasi wisata unggulan yang mampu memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Kabupaten Lahat kepada masyarakat luas.
Selain pengembangan fasilitas wisata dan kuliner, penataan kawasan juga akan memperhatikan kenyamanan pengunjung, aksesibilitas, serta estetika lingkungan agar kawasan megalit memiliki nilai tambah sebagai objek wisata berkelas.
“Ketiga lokasi megalit ini akan ditata sebaik mungkin agar menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Lahat,” tambahnya.
Pengembangan kawasan wisata megalit tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar, membuka peluang usaha baru di sektor pariwisata dan kuliner, serta memperkuat identitas Kabupaten Lahat sebagai daerah yang kaya akan warisan sejarah dan budaya.







